Skip to content


Kopi yang Mengubah Eropa

Revolusi bermula di kedai-kedai kopi

SEJAK Baba Budan, seorang jamaah haji asal Mysore, India, menyelundupkan tujuh biji bibit kopi dari Jazirah Arab ke kampungnya di India pada abad ke-15, penyebaran kopi ke seluruh dunia tinggal menunggu waktu. Benua biru, Eropa, menjadi wilayah selanjutnya yang diinvasi bebijian pahit ini. Namun, hingga abad ke-17, pengetahuan “orang-orang Barat’ perihal kopi boleh dibilang minim.

Kronik sekira tahun 1600, yang berisi sekelompok pemuka gereja mendatangi Paus Clement VIII untuk memintanya memfatwa haram kopi, menggambarkan betapa asingnya mereka terhadap kopi. Catatan Sir George Sandys, penyair asal Inggris, pada 1610 masih menunjukkan hal yang sama. Dia menulis, orang-orang Turki bisa ngobrol hampir sepanjang hari sambil menyeruput minuman yang digambarkan sebagai “sehitam jelaga, dan rasanya tak biasa”. Sandys juga mengatakan bahwa minuman ini, “sebagaimana mereka (orang-orang Turki) bilang, membuat plong pencernaan dan menyegarkan tubuh.” Continued…

Posted in Esai.

Tagged with , .


Ritual Ngopi

Dicerca lalu dipuja, pesona harum kopi sukses menaklukkan berbagai belahan dunia

KOPI luwak pernah bikin heboh. Sebabnya, rencana pengharaman kopi luwak oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Setelah melalui perdebatan hangat, MUI akhirnya mengeluarkan fatwa bahwa kopi luwak mengandung najis namun halal jika dicuci terlebih dulu sebelum dikonsumsi. Menilik sejarahnya, hukum halal-haram kopi juga sudah diperdebatkan oleh kaum agamawan.

Pelarangan kopi dipercaya hampir setua umur kopi mulai dikonsumsi manusia. Hal ini bisa diketahui dari sebuah cerita rakyat di daerah Abyssinia, sekarang Etiopia. Dikisahkan, seorang penggembala bernama Kaldi melihat kambing-kambingnya kegirangan setelah memakan buah menyerupai beri merah yang belum pernah dia lihat. Dia pun mencicipinya dan merasakan efek rasa segar. Ketika dia memberi tahu orang-orang, popularitas buah ini segera meroket di daerah tersebut. Continued…

Posted in Esai.

Tagged with , .


Ucapkan Saja

Terimakasih telah menyapaku, wahai lelaki yang isi hatinya tak pernah sungguh-sungguh kutahu. Ada ribuan kabar burung yang terbang, lalu hinggap sejenak, sekedar menciptakan ruang imajinatif di jiwa. Tanpa meraihnya, tanpa menyentuhnya, aku telah menjemput bahagia. Demikianlah cinta, yang sanggup mengkonstruksi hamparan rasa, meski sedikit sekali bertaut dengan kenyataan.

Belasan tahun sudah kita saling mengenal. Tak pernah benar-benar dekat. Kamu berada melampaui batas-batas antara keindahan dan keberanian mengungkapkan. Aku hanya sanggup menikmati tanpa sanggup lebih lantang mendekati. Kadang kuberharap kamu membuka dirimu untuk kuhampiri lebih lekat. Namun, bagaimana mungkin sebuah keanggunan merelakan dirinya dicampakkan oleh cinta seorang pengagum yang biasa-biasa saja.

Kutangkap matamu yang kadang-kadang melihat ke arahku. Namun sungguh aku tak berani memaknainya lebih jauh dari tak sengaja. Tahukah dirimu, wahai lelaki yang biasa dalam wujud namun sempurna dalam bijaksana, satu saja uluran tanganmu yang menuju ke arahku, akan kusambut dengan hati telanjangku. Tanpa sekat, dekap…erat. Continued…

Posted in Fiksi.

Tagged with .


Wiji Thukul Penyair Kampung

Arief Budiman

I
Arief BudimanWIJI THUKUL, orang yang menulis kumpulan puisi ini, benar-benar tidak punya potongan seorang penyair. Wajahnya dan sosok tubuhnya lebih merupakan seorang pedagang asongan yang berkali-kali kena gusur. Atau buruh pabrik yang sering di-pehaka, yang hidupnya selalu rawan pangan.
Memang, Wiji anak seorang tukang becak yang lahir di kampung Sorogenen, Solo pada tahun 1963. Hidupnya berlumuran kemiskinan. Sampai sekarang, bapaknya masih tetap membecak, menelusuri jalan-jalan di kota antik ini. Beberapa sajaknya melukiskan penderitaan sang bapak.

Continued…

Posted in Esai.

Tagged with .


Sajak

sajakku adalah kata-kata
yang mula-mula menyumpal di tenggorokan
lalu dilahirkan ketika kuucapkan

sajakku adalah kata-kata
yang mula-mula bergulung-gulung
dalam perasaan
lalu lahirlah ketika kuucapkan

sajakku
adalah kebisuan
yang sudah kuhancurkan
sehingga aku bisa mengucapkan
dan engkau mendengarkan

sajakku melawan kebisuan

wiji thukul, solo, 1988

Posted in Puisi.

Tagged with .


Rumah Kata

Dikutip dari : Bude Binda

 

Saat kau termenung

dalam beribu kemungkinan

walau langit mendung

tetaplah hatimu ceria bagai purnama

jangan bersedih

berkunjunglah ke rumah kata

beribu puisi tercecer

pungutlah yang kau suka

ayo ke rumahku

kubangun tanpa banyak biaya

hanya dengan kata berpagar makna

jika kau suka  ambillah

berbagi suka duka

menikmati daun jatuh

tetes hujan pagi hari

embun , dingin, sepi yang memeluk hati

duh, indah dunia dalam rumah kata

ruang puisi sajak tak bermakna

di mana hujan dan daun jadi tokoh cerita

ditulis saat hujan turun basahi bumi kamis malam 18 maret 2010.

Posted in Puisi.

Tagged with .


Sekolah Untuk Apa?

Oleh: Rhenald Kasali

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak kita mencari sekolah. Masuk universitas pilihan, susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk, ternyata banyak yang “salah kamar”. Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah.
Continued…

Posted in Esai.

Tagged with .


Anang dan Kemenangan Ingatan

Dikutip dari : http://www.rumahputih.net

Anang, barangkali, sudah disuratkan untuk selalu jadi pemenang. Dan Syahrini terlambat menyadari hal itu, ketika telah terlanjur menabuh genderang ”perang”. Maka, ibarat permainan catur, bidak tak pernah bisa melangkah mundur, Syahrini, terutama manajer dan adiknya Aisyahrani, terus menembakkan amunisi, hanya sebagai tanda, mereka belum menyerah.

Kata menyerah sebenarnya tak terlalu tepat untuk kondisi semacam ini. Perang antarmereka sebenarnya bukan di medan yang mereka kuasai. Anang dan Syahrini, berperang di arena yang dikuasai orang ramai: pemirsa. Di antara pemirsa itu ada penggemar keduanya, yang fanatik, dan yang apatis. Tapi yang paling utama dan menentukan arah perang itu adalah pemirsa yang punya ingatan, tahu kesejarahan duet Anang-Syahrini. Continued…

Posted in Esai.

Tagged with , .


Finding Forrester | Gus van Sant | 2000

Dikutip sepenuhnya dari Indonesia buku

Finding ForresterPemain: Sean Connery (William Forrester), Laurence Mark (Jamal Wallace)

Tulis Saja, Jangan Berpikir!

“Mulailah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis. Tulis naskah pertamamu itu dengan hati. Barulah kemudian kau tulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir.”

Itu pelajaran pertama Jamal Wallace dari seorang novelis pemenang Pulitzer yang hanya menerbitkan satu buku kemudian menghilang, William Forrester. Pelajaran itu menjadi sabetan pertama mengasah bakat menulis Jamal hingga menjadi penulis yang berkarakter. Karakter itu ditemukannya setelah menemukan serangkaian latihan demi latihan di kamar William.

Jamal adalah seorang kulit hitam yang tumbuh menjadi remaja di lingkungan Bronx. Kawasan ras kulit hitam yang padat dan kasar. Ia hidup serumah dengan ibunya. Ayahnya pergi lantaran tak tahan dengan omelan ibunya karena jorok. Saudara laki-lakinya ikut pergi setelah ayahnya pergi. Kesepian membawanya ke sudut kamar bersama buku harian. Di lembar-lembar kertas itulah ia torehkan segala kecamuk hati.

Continued…

Posted in Esai.

Tagged with .


Esai Aulia A Muhammad: Sebelah Mata untuk “Empat Mata”

Kelemahan utama acara “Empat Mata” justru terletak pada hasrat Tukul yang ingin selalu jadi pemain utama. Januari ini barangkali dapat dijadikan sebagai bulan Tukul Arwana. Nyaris semua tabloid memasang foto dan mengulas dirinya. Biogafi pendeknya tercetak di mana-mana, wajah cengengesannya tayang di berbagai infotainmen. Sebabnya satu, keberhasilannya mengampu talk show “Empat Mata”. Keberhasilan yang dinilai fenomenal karena semula kehadirannya justru dipandang sebelah mata. Dan ketika rating “Empat Mata” melejit, iklan antre, “pesona” Thukul pun menjadi topik hangat. Pujian bertaburan. Kesederhanaan dan keluguannya selalu menjadi anggukan.

Continued…

Posted in Esai.

Tagged with .