Skip to content


Republik Maut

13273429471784782886

Republik Maut
Puisi : Edy Priyatna

Ada sebuah negeri impian
sebuah republik
yang para pemimpinnya tertidur
sepanjang hari…….
di atas kursi-kursi hangat
di balik ruang janji-janji
konon negeri ini
menjadi negeri para penangis
berpenghuni jutaan kesedihan
dalam dongeng-dongeng tragis

Kemudian negeri itu dekat dengan maut
di ujung barat porak poranda
karena ada air laut menelan pantai
lalu ada penembak misterius
dalam goncangan gempa besar
bagian tengah luluh lantah
ada letusan gunung berapi
dan banyak jembatan runtuh
dalam banjir badai yang dahsyat
sementara di timur pun tergoncang prahara
air bah menyapu desa-desa
bahkan banyak pencuri-pencuri
yang tak pernah ingin berhenti mencuri
menjadikan rakyatnya harus bersusah-payah
setiap saat mesti selalu berjuang
berkarya
berusaha
berupaya
belajar
berjalan
dengan kematian

(Pondok Petir, 23 Januari 2012)

dikliping sepenuhnya dari sini

Posted in Puisi.

Tagged with .


Les Misérables – Victor Hugo

Oke, saya memang menonton filmnya lebih dulu. Tapi justru dari film itulah perkenalan saya dengan literatur klasik legendaris ini. Saya bersyukur pernah menonton film itu. Saya suka filmnya, saya terpaku dengan akting Liam Neeson, Geoffry Rush dan Uma Thurman, tergila-gila oleh logika plotnya. Ketertarikan saya semakin bertambah setelah menonton film serupa berbahasa Prancis yang dibintangi Jean Paul Belmondo. Setelah itu saya bertekad untuk memburu bukunya karena penasaran.

Ternyata bukunya jauh lebih luar biasa. Ada beberapa perbedaan antara buku yang terbit pertama tahun 1862 ini dengan filmnya, justru ini membuat saya apresiatif terhadap keduanya sebagai karya bermutu. Memang, tidak mungkin memasukkan novel setebal 690 halaman (dengan ukuran font yang sangat kecil, konon edisi bahasa Prancisnya bahkan tebal lebih dari 1.500 halaman) ke dalam film berdurasi 2 jam, untuk itu beberapa perubahan memang diperlukan. Dengan membaca bukunya, kita lebih bebas mengapresiasi, tanpa sesak napas terbatasi frame yang selalu menghimpit ketat.

Buku ini adalah magnum opus dari sastra Prancis abad 19. Victor Hugo adalah pengusung romantisme dalam sastra. Dalam romantisme, segalanya begitu agung, begitu emosional. Tak memulu hitam-putih, tapi sangat menjunjung tinggi pencarian kebenaran dan nilai-nilai kebajikan. Juga cinta dan kasih sayang bisa begitu dalam sampai menusuk ke tulang.

Les Miserables berarti orang-orang yang malang atau orang-orang yang mengiba. Oleh karena itu, sepanjang cerita dalam novel ini adalah tentang orang-orang yang tidak beruntung dalam peradaban, orang-orang miskin, orang-orang yang terpinggirkan dalam masyarakat, orang-orang yang bergulat dalam kemiskinan struktural. Tapi dibalut dengan semangat romantisme tadi, kemalangan dan keibaan adalah jalan menuju kejujuran dan kebajikan sejati, meskipun pada akhirnya tetap kalah dan terpinggirkan.

Begitu panjangnya novel ini, konflik di dalamnya adalah konflik yang berlapis-lapis. Seakan tak cukup membuka lapis pertama, kita terus membuka lapis kedua, ketiga, dan selanjutnya. Pelajaran hidup dalam novel ini begitu lengkap, dari luar maupun dari dalam sekali. Membaca novel ini serasa lari marathon 42 kilometer. Tidak terbayang betapa luar biasa stamina Victor Hugo dalam menulis buku ini.

Novel ini bercerita tentang seseorang bernama Jean Valjean, seorang mantan narapidana yang dihukum kerja paksa selama 19 tahun karena mencuri roti untuk keluarganya yang kelaparan. Jean Valjean menjadi seseorang yang menegakkan kebajikan tanpa lelah, meskipun dirundung kemalangan dan kesulitan hidup. Jean Valjean meninggalkan dendam kesumatnya terhadap semua hal yang menentangnya dan membantu setiap orang tanpa pamrih. Valjean mengubah pandangan hidupnya yang skeptis berkat pelajaran hidup dari Uskup Myriel, yang membantunya lepas dari penjara meskipun Valjean telah mencuri di rumah sang Uskup.

Sejak itu Jean Valjean selalu berbuat baik tanpa pamrih kepada siapapun, meskipun disakiti orang. Ini serupa dengan etika Kristen yang “bila ditampar pipi kanan, memberikan pipi kirinya juga”. Mungkin naif. Tapi begitulah Jean Valjean, memutuskan untuk menjadi naif, bahwa kebaikan tak ada batasnya. Naif tapi agung, itulah romantisme.

Ini adalah cerita mengenai Jean Valjean yang berusaha menegakkan kebajikan yang tulus, tapi masa lalunya selalu menjadi petaka baginya. Jean Valjean akhirnya menjadi walikota di sebuah kota, meninggalkan identitas masa lalunya sebagai mantan narapidana, mengganti namanya menjadi Monsieur Madelaine. Disana dia bertambah kaya dengan berhasil memiliki sebuah pabrik. Dia menolong seorang buruh pabrik yang miskin bernama Fantine yang terpaksa menjadi pelacur dan akhirnya meninggal karena TBC. Fantine memiliki anak haram bernama Cosette yang dititipkan kepada keluarga Thenardier yang mata duitan.

Kemalangan kemudian datang pada Valjean atau Monsieur Madelaine. Seorang inspektur polisi baru yang ambisius dan terobsesi untuk menegakkan hukum mengenali walikota baru itu sebagai mantan narapidana. Adalah melanggar hukum bagi seorang mantan narapidana mengubah identitas dan menjadi pejabat pemerintah. Setelah ketahuan kedoknya, Valjean melarikan diri ke Paris setelah sebelumnya menebus Cosette dan disana membesarkan Cosette sebagai anaknya sendiri.

Javert terus memburu Jean Valjean, melacaknya, dan kehilangan lagi. Ini menjadi obsesinya seumur hidup. Pada saat Javert mendapatkan kesulitan yang mengancam nyawanya karena mengejar Valjean, Valjean malah menolongnya. Hal ini yang membuat Javert berhutang nyawa terhadap Valjean, dan Javert tidak menyukai hal ini. Nurani Javert berperang melawan dirinya sendiri.

Begitu kaya karakterisasi dalam novel ini, kita serasa membaca 10 novel sekaligus. Tokoh utamanya tentu saja Jean Valjean, sang protagonis yang gigih. Fantine, wanita yang dikutuk karena melahirkan Cosette di luar nikah dan akhirnya dipecat sebagai buruh pabrik. Dia kemudian terpaksa menjadi pelacur yang kerap disiksa dan mendapat penyakit. Begitu miskinnya, Fantine sampai harus menjual rambut dan giginya untuk membiayai hidupnya dan mengirim uang untuk anaknya.

Cosette dibesarkan dalam keluarga Thenadier sebagai pembantu rumah tangga yang disia-siakan dan sering disiksa, sebelum ditebus Valjean. Thenardier adalah salah satu veteran perang Waterloo yang bankrut setelah menjalani bisnis penginapan dan akhirnya menjadi perampok di jalanan Paris. Gavroche, anak jalanan di Paris, adalah anak kandung Thenardier yang tidak terurus, yang akhirnya menjadi pahlawan anti monarki dan tewas ditembak tentara dalam peristiwa terkenal yaitu Pemberontakan Juni di Paris tahun 1832.

Mereka adalah “Les Miserables”. Negara tak pernah berpihak kepada mereka. Novel ini masih sangat aktual, meskipun satu abad lebih telah berlalu. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Novel ini juga cukup berharga sebagai sebuah novel historis.

Menurut saya buku ini adalah novel paling luar biasa yang pernah saya baca. Begitu panjang, begitu luas, begitu lengkap, dan begitu dalam. Membuat saya terbawa secara emosional luar dalam, dan akhirnya di akhir buku saya benar-benar menangis. Ini pertama kalinya saya menangis dalam membaca buku, saya tak bisa menahannya.

Layaknya sebuah lari marathon, Victor Hugo tahu benar kapan harus berlari pelan, kapan harus sprint, kapan harus minum air, dan betapa luar biasanya pencapaian garis finish. Sangat intens. Sangat melelahkan. Tapi memang begitulah kehidupan.

Dikliping sepenuhnya dari Pojok Buku

Posted in Buku.

Tagged with .


Sondang, Mati yang Hidup dan Hidup yang Mati

Oleh Yudi Latif

Sondang Hutagalung memilih kematian untuk memuliakan kehidupan. Ia percaya, dengan segenap hati, jiwa, dan raganya, ada sesuatu yang bernama kebenaran dan keadilan. Kepercayaan itu telah ia perjuangkan sebatas kemampuannya dengan ambil bagian dalam serangkaian aksi.

Setelah aksi demi aksi bak percik bunyi yang mudah lenyap ditelan kegaduhan politik pencitraan, ia pun bertanya kepada sejawat seniornya, apa lagi yang bisa diperbuat untuk membuka mata, telinga, dan sukma pemimpin negara. Ia pun tiba pada titik simpul, tak banyak pilihan yang bisa dikerjakan orang biasa. Satu-satunya pilihan yang diharapkan bisa menyadarkan elite politik akan pentingnya memuliakan kehidupan adalah memilih kematian secara dramatis.

Continued…

Posted in Esai.

Tagged with .


Berhitung Dengan Freeport

Oleh Kwik Kian Gie

Harry Tjan Silalahi menulis tentang Freeport di harian ini pada Senin (14/11). Suaranya mencerminkan perasaan umum tentang Freeport: penjajahan kembali mengisap kekayaan rakyat Indonesia.

Pengisapan oleh Freeport memang luar biasa. Namun, ini bagian kecil saja. Hampir semua kekayaan mineral kita dikontrakkan dengan manfaat yang amat kecil bagi rakyat Indonesia.
Continued…

Posted in Esai.

Tagged with .


Dari Nietzsche ke Olimpiade Sastra

Pada tahun 1876, sebuah festival diselenggarakan di Bayreuth atas prakarsa King Ludwig II, Bavaria, untuk menggelar karya-karya komposisi Richard Wagner. Seorang filsuf tak dikenal pada waktu itu diundang untuk menghadiri festival ini.

Filsuf itu hadir di festival Bayreuth karena, selain sebagai sahabat dekat sang komposer, dia memang penggemar berat karya-karya Richard Wagner. Namun, apa yang disaksikannya di Festival Bayreuth itu justru membuat dia jatuh pingsan ditengah keramaian.
Continued…

Posted in Esai.

Tagged with .


PERANGKAP TIKUS DAN SIKLUS KEHIDUPAN DALAM PUISI GOENAWAN MOHAMAD

Oleh F. Rahardi

Menandai HUT ke 70 Penyair Goenawan Mohamad, 29 Juli 2011; telah terbit dua judul kumpulan puisi: Tujuh Puluh Puisi, dan Don Quixote (Tempo/PT Grafiti Pers 2011). Dewan Kesenian Jakarta, minta saya mengulas puisi Goenawan Mohamad dalam dua buku kumpulan tersebut, untuk acara diskusi Bincang Tokoh # 5 di Taman Ismail Marzuki, 23 September 2011.
Continued…

Posted in Esai.

Tagged with .


Sisi Muram Peradaban Kota

Buruk muka cermin dibelah. Andaikata bisa, orang-orang India yang yang tinggal dalam kemewahan di luar negeri akan melumat film Slumdog Millionaire. Dalam film itu, India dipotret dari sisi paling kumuh (slum area), melalui kota Mumbai. Seperti layaknya negara dunia ketiga yang sedang tumbuh, pembangunan senantiasa memakan korban. Ditambah pula konflik agama yang membuat masyarakat hidup tidak tenteram. Film yang menggambarkan realitas kota Mumbai memang menampar wajah manis yang kerap ditampilkan dalam ‘sandiwara’ Bollywood.

Memperhatikan wajah seluruh film, nyaris tak berbeda dengan kondisi Jakarta yang dari segi fisik menunjukkan ketimpangan itu: di balik gedung-gedung pencakar langit, terdapat kawasan miskin dan rawan yang tak mampu tersembunyikan. Dengan penggambaran karakter tokoh yang tumbuh melewati peristiwa psikologi masing-masing, kerap menunjukkan perilaku hiperealis. Praktik masyarakat sehari-hari dalam tekanan kemiskinan dan hukum pemerintah yang lemah menghasilkan banyak dampak buruk.

Continued…

Posted in Esai.

Tagged with .


Bukumu Mungkin Akan Mengubah Hidupnya

Frank McCourt, penulis buku Teacher Man dan Angela’s Ashes, punya kenangan tersendiri tentang sebuah buku yang mengubah jalan hidupnya.

Saat berusia 10 tahun, Frank didera tifus yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit.  Di kamar tempatnya dirawat, ada seorang gadis berusia 14 tahun yang juga sedang dirawat karena penyakit difteri. Gadis itu meminjami Frank dua buah buku, salah satunya buku sejarah ringkas Inggris. Frank membaca buku itu dan menemukan sekuplet kalimat Shakespeare yang berbunyi: “I do believe, induced by potent circumstances That thou art mine enemy.” Continued…

Posted in Buku.

Tagged with .


Il Postino atau Apa Arti Metafora

Skarmeta mencoba menggubah puisi-puisi Neruda menjadi sebuah prosa.

DATA BUKU
JUDUL: Il Postino
PENGARANG: Antonio Skarmeta
PENERJEMAH: Noorcholis
PENERBIT: Akubaca
TERBIT: Jakarta, September 2002

BAIKLAH, aku buka catatan ini dengan sepenggal puisi Pablo Neruda, Sonet XVII (100 Sonet Cinta, 1960), dalam terjemahan bebasnya.

Aku tak mencintaimu seandainya kamu adalah mawar-tawar, topaz
atau tangkai anyelir yang menyemai api:
Aku mencintaimu seperti benda hitam yang dicintai,
secara rahasia, antara bayangan dan jiwa.

Aku mencintaimu seperti tanaman yang tidak mekar dan menyebar
tersembunyi di dalam dirinya cahaya dari bunga-bunga,
dan berkat cintamu, yang gelap di dalam tubuhku
hiduplah wewangi pekat yang terbit dari bumi.

Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana,
Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa persoalan atau kebanggaan:
Aku mencintaimu dengan cara ini karena aku tak tahu cara lain untuk mencinta

tapi inilah, di mana tiada aku atau kamu,
begitu lekat, tanganmu di atas dadaku adalah tanganku,
begitu rapat, ketika aku jatuh lelap adalah matamu yang melindap.
Continued…

Posted in Buku.

Tagged with .


Kesalahan Terindah

Malam ini baru ku dengar lagi kabarmu , angin malam telah membawamu untuk kita saling bertegur sapa . Cerita tentangmu pun lantas mengalir, ingatanku kembali kemasa lalu yang telah membakar api amarahku padamu . Bahkan duri-duri  tajam yang pernah kau tancapkan masih terselip di bilik hatiku, menikamku dalam sekali .

Ada apa dengan hati ini, walau kau telah menghujani hatiku dengan perih yang luar biasa dan air mata yang tak bisa lagi kubasuh. Namun, hati ini masih saja selalu merindukan kehadiranmu walau hanya berupa sapaan angin lalu , sosokmu tetap tak beranjak dari ruang hatiku. Tidakkah kau sadari, diriku selalu menempatkan sosokmu dihatiku yang paling indah , keindahannya dipenuhi dengan bunga harum yang bertebaran serta bertaburan kupu-kupu, tak pernah terpikir olehku untuk menghilangkan bayanganmu didalam imajinasiku sekalipun. Continued…

Posted in Esai.

Tagged with .